Saturday, April 23, 2016

Buah-buahan Sewaktu Kecil

Posted by Nuna Margie at 6:18 PM
Reactions: 
Selamat sore, pembaca setia blogku!
Jadi, kenapa saya mau bahas tentang buah-buahan sewaktu kecil? Soalnya nih kemarin kakakku bawa salah satu buah yang membuatku terkenang masa lalu. Kalau di tempatku sih namanya buah Wuni, nggak tahu kalau di tempat lain. Kalau inget buah ini tuh laksana inget hidup sewaktu susah (padahal nggak tahu kapan hidup susah haha), asem bener. Bahkan asemnya bisa bikin nangis. Namun, kalau buatku sih buah ini enak-enak saja, lha wong aku suka buah-buah asam daripada buah manis (seperti kelengkeng, nggak doyan). Kita mulai saja mengulasnya yooo..

1. Wuni

Ini buah yang kemarin dibawa kakakku dari hutan. Bukan hutan beneran sih sebenernya, cuma keluarga aku memiliki tanah di tempat terpencil dan susah dijangkau seluas 1hektar lebih. Disebut hutan karena harus berjalan kaki melewati bukit dan sungai (nggak kebayang dulu sewaktu kecil sering diajak ke hutan ini, maklum saja orantuaku berprofesi sebagai petani). Kalau mengalami naik turun bukit dan hutan, sumpah bikin nggak pengen ikut. Sayangnya, aku diharuskan ikut karena nggak ada yang jagain di rumah. Jujur saja, aku anak terakhir dan bisa dibilang anak masa tua orangtuaku. Bahkan, aku punya kakak yang pantasnya jadi ibuku, aku punya keponakan (anak kakakku yang pertama) yang usianya lebih tua dari usiaku. Loh koq malah bicara tentang keluarga. Baik ke topik semula. Nah, kakakku itu bawa buah wuni sebagor. Banyak banget. Kalau dulu sih ibuku sering menjualnya dengan harga 500 dan 1000 seplastik. Anak-anak langsung rame menyerbu rumahku buat beli.
Buah wuni ini seperti anggur, tapi lebih kecil. Berwarna hijau, putih, merah, dan hitam, itu urutan kematangannya. Biasanya sih nggak matang rata, jadi harus dipilih-pilih gitu buat makan. Jujur, meski aku suka buah wuni, tetap akan memilih warna hitam buat makan. Lha wong hitam saja terkadang masih asam, apalagi warna yang lainnya. Buah ini memiliki biji keras, menurutku sih bijinya nggak bisa dimakan. Akan tetapi, ibuku dulu kalau makan bijinya dikunyah. Nggak telaten buat misahin biji. Hati-hati dengan keasaman buah ini, sumpah asam banget kalau nggak pilih yang hitam. Bahkan mungkin bisa bikin nangis dan mules. Tapi tetap menurutku buah ini enak.
Waktu pertama kakak bawa sih rasanya udah nggak pengen makan. Pertama, aku sudah meninggalkan makanan yang terlalu asam, takut magh kumat. Kalau dulu sih nyemilnya buah asam yang dipetik tidak jauh dari rumah atau bahkan beli asam masak di warung buat diemut-emut, haha. Nah, karena sudah kebayang rasa asamnya, hari pertama si wuni itu lewat begitu saja. Hari kedua, kakak iparku membuatnya jadi rujak ulek. tetap tidak tergoda, tapi siang itu cuaca panas. Pengen yang seger-seger gitu. Akhirnya kecandak juga deh itu si wuni. Asem, masih seperti yang dulu dan tetap buat nagih. Akhirnya ambil mangkuk dan milihin deh itu buah yang hitam-hitam. Buat camilan pasti nggak habis-habis, haha.
Hari ketiga makin besar ajah hasrat buat nyemil ini buah. Padahal sudah kena efeknya. Tiap pagi pasti rebutan ke kamar mandi, sepertinya ini bisa dibuat obat pencahar, haha. Efek kedua, lidahku jadi sariawan, hiks. Awal mula sih karena gigit-gigit ni buah kecil-kecil, eh lidahku berdarah. Nggak tahu karena kegigit atau apa. Tapi, sumpah sakit banget. Darahnya nggak berenti-berenti pulak. Sepertinya bintil di lidah itu tercabut satu, lha darah nggak berenti oug. Hari keempat meski sudah sariawan tetap saja makan, haha. Padahal yah, di depan kamar kakakku sudah ada bungkus vitacimin, mungkin karena kakak ipar dan ponakanku sering makan ini jadi sariawan juga.
Katanya sih pohon dan buah ini sudah langka. Nggak heran sih, soalnya nggak pernah nemu buah ini lagi. Mungkin ini termasuk beri-berian kali ya. Bentuknya mirip beri juga.

2. Nggak tahu namanya apa, tapi aku selalu nyebutnya "Brimbing-brimbingan"

Kenapa disebut brimbing-brimbingan? Soalnya bentuknya mirip buah belimbing beneran (belimbing di tempat aku disebut brimbing). Bentuknya super duper kecil jika dibandingkan belimbing beneran. Rasanya? Asem banget. Nggak ada mirip-miripnya sama rasa buah belimbing. Kalau buah ini sih masih bisa ditemui. Di kebun keluarga yang masih terhitung dekat, masih satu desa dengan rumahku, sering nemu ini. Tapi nggak mau nyicipin lagi, haha. Pohonnya sih nggak gede, bahkan nggak bisa disebut pohon. Mungkin karena tanaman ini tanaman liar kali yah. Seperti rumput gitu tapi berbentuk pohon. Nggak pernah lihat pohon buah ini bisa besar dan tinggi. Malahan sama ilalang saja lebih tinggian ilalang. Dan nggak tahu sejak kapan dan bagaimana aku bisa tahu buah ini bisa dimakan. Yang jelas sewaktu kecil sering makan nih buah. Pernah nih suatu ketika ketika jemput ibu dari kebun, nah sambil nunggu lihat ini buah. Aku makan deh, eh ibu lihat. Malah bilang "Clutak! Koyok ngunu dipangan". Sudah deh, nggak pernah makan kayak gitu lagi. Kan aku makan kayak gitu karena mengenang masa kecil, nggak pernah lihat itu lagi tak kira tanaman langka. Ternyata masih banyak tumbuh.

3. Duwet

Kalau duwet ini mirip anggur, tapi ukurannya lebih besar. Sama seperti wuni, harus pilih yang benar-benar hitam. Buah ini sih nggak asem, cuma kalau nggak hitam yah sepet (sepet bahasa indonesianya apa yah?). Kadang orang nyebut ini jamblang. Dulu di deket rumah ada yang punya pohon ini sih, kalau jatuh ngotori jalan gitu. Susah sekarang nemu pohon ini, apalagi nemu yang jual.

4. Belimbing Wuluh

Kalau ini sih pasti sudah pada tahu. Dulu sering banget panjat pohon ini milik tetangga belakang rumah. Maklum, dulu suka dengan buah yang asam-asam, jadi sering petik ini buah. Sekarang udah nggak ada lagi pohonnya. Kemarin sih masih sempat nemuin belimbing wuluh ini.

5. Cermai


Kalau buah cermai ini sih nggak ada manis-manisnya. Mau mentah atau mateng, tetap saja rasanya asam, haha. Dulu juga pernah panjat pohon ini. Bahkan di rumah bulek samping rumah ini pernah nanam. Sekarang udah nggak ada lagi, udah didirikan toko.

6. Krengsem

Kalau di tempat aku disebutnya krengsem, kalau di tempat lain nggak tahu. Pohonnya bisa tinggi, kalau sudah berbuah bakal berbuah terus. Di tetangga belakang rumah pohon ini nggak sengaja tumbuh. Sekarang sudah gede pohonnya, banyak buahnya juga. Buahnya sih kayak cuka, teksturnya menurutku juga mirip. Cuma, rasanya manis. Kalau buah ini jujur dari dulu hingga sekarang aku nggak suka. Merasa bau nggak enak saja ma buah ini, wangur gitu.

7. Cipukan

Kalau dulu sering nemu ini. Tapi, sama seperti krngsem. Aku nggak suka. Kalau sekarang udah nggak nemuin lagi. Kalau nggak salah buah ini juga dari tanaman liar.


Yah, itulah buah yang membuatku terkenang masa kecil. Mungkin pengalaman kalian berbeda dengan pengalamanku. Atau mungkin kalian nggak sepecinta alam diriku, haha. Mengingat dulu aku tomboi dan sering panjat pohon, nggak aneh camilanku sewaktu kecil aneh-aneh, haha.
Foto diambil dari google.

2 comments:

Rika Pratiwi said...

nostalgia my childhood Download OST Anime 320k mp3

Anonymous said...

kalo ditempatku
1. buni.
2. belimbing tanah.
3. jamblang
4. dan 5. sama
6. kersen
7. nggak tau

Post a Comment

Nuna. Powered by Blogger.
 

Nuna Margie Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review